Akankah Bahasa Indonesia Punah di Tangan Generasi Muda?

Bisakah Puisi Menjadi Alat Penyelamat?

Bahasa sebagai sarana komunikasi, tentu bersifat sangat dinamis. Dari waktu ke waktu, bahasa mengalami banyak perubahan, mengikuti perubahan sikap para penggunanya yang tentu saja dipengaruhi oleh perkembangan zaman. Bila kita perhatikan interaksi masyarakat di kalangan Generasi Z dan Alpha di kelas sosial ekonomi menengah atas, banyak dari mereka sudah fasih berbahasa Inggris sejak dini, hingga terkadang, kemampuan berbahasa Indonesia mereka, sebagai bahasa ibu dan bahasa nasional pun terlupakan.

Elvira Rosa, 40 tahun, asal Yogyakarta, seorang ibu dari dua anak Generasi Z dan Alpha mengatakan, “Saya memang sengaja menyekolahkan anak saya di sekolah internasional, supaya mereka bisa berbahasa Inggris dengan lancar, tidak seperti saya. Saya lihat ke depannya, semua orang dituntut untuk bisa lancar berbahasa Inggris supaya bisa bersaing di dunia internasional. Tidak mengapa anak-anak saya tidak bagus berbahasa Indonesia, asalkan bisa berkomunikasi sehari-hari saja, sudah cukup, deh.”

Beranjak besar, para Generasi Z pun, kembali mengalami tantangan untuk berbahasa Indonesia dengan benar, karena lingkungan pergaulan mereka menuntut mereka menggunakan bahasa pergaulan agar terlihat up to date atau mengikuti perkembangan zaman, semisal, penggunaan “Bahasa Anak Jaksel”, yang mengombinasikan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris.

Christian, mahasiswa tingkat akhir Moestopo Beragama, mengatakan, “Sejujurnya, saya tidak tahu kaidah Bahasa Indonesia yang benar itu seperti apa. Yang saya tahu, ya, yang sehari-hari saya gunakan di pergaulan saya, yang memang sudah ter-influence dengan bahasa kekinian. Soalnya, di sekitar saya, termasuk di keluarga saya, tidak terlalu peduli mengenai bahasa. Paling-paling, yang saya tahu soal puisi itu, dari lagu-lagunya Fiersa Besari, sih.”

Puisi Sebagai Penyelamat?

Bilamana Bahasa Indonesia terus mengalami penurunan minat di negaranya sendiri, akankah suatu hari nanti Bahasa Indonesia punah di tangan generasi penerusnya? Apa yang harus kita lakukan? Apakah peningkatan minat berbahasa Indonesia dengan baik merupakan tanggung jawab pemerintah semata? Lentera App, penyedia layanan perpustakaan digital yang baru saja hadir di tengah masyarakat pada Desember lalu, menangkap kegelisahan ini dan berusaha untuk mengembalikan popularitas Bahasa Indonesia melalui puisi.

Annastasia Puspaningtyas, Founder Lentera App., berpendapat bahwa salah satu cara untuk mengajak generasi muda untuk menyukai Bahasa Indonesia, adalah dengan membuat citra Bahasa Indonesia itu keren, dengan cara yang menyenangkan. “Lentera App., ingin sekali mengajak anak muda Indonesia mencintai bahasanya sendiri dengan cara yang menyenangkan. Salah satu upaya yang kami lakukan adalah dengan mengadakan kegiatan lomba membaca puisi yang bertajuk Deklamasi Lentera. Kami membebaskan para peserta untuk membawakan puisi-puisi yang ada di aplikasi Lentera dengan sekreatif mungkin, dengan gaya terkini yang sesuai dengan jiwa mereka. Kami ingin mereka mencintai puisi dengan caranya sendiri, hingga akhirnya mereka bisa mencintai bahasa tanah airnya melalui keindahan kata-kata yang ada di puisi tersebut.”

Pada tahun 2005, Generasi X dan Milenial awal dihebohkan dengan kehadiran film Ada Apa Dengan Cinta yang saat itu sangat populer di kalangan remaja dan dewasa muda. Mendadak, para generasi muda kala itu menyukai puisi, karena terbawa euforia tokoh Rangga pada film tersebut yang dicitrakan sebagai kutu buku tampan yang menyukai puisi. Pada tahun 2018, anak muda Indonesia juga digemparkan dengan film Dilan 1990, yang kemudian membuat anak muda saat itu belajar menggunakan kata-kata baku, selayaknya anak muda di era 90an bertutur.

Kultur pop memang sangat ampuh untuk mengubah arah tren masyarakat, khususnya anak muda. Hal ini juga disadari oleh Yuditeha, penulis 23 buku, termasuk beberapa buku puisi, dan sastrawan asal Solo yang menjadi juri lomba Deklamasi Lentera. Menurutnya, anak muda memiliki emosi jiwa yang sangat bergejolak. Mereka perlu menyalurkannya ke dalam bentuk seni yang positif, salah satunya adalah puisi. "Puisi adalah jendela jiwa dan sebuah sarana untuk berbagi emosi. Lomba Deklamasi Lentera adalah kesempatan yang luar biasa bagi peserta untuk menggali potensi diri mereka dan menyampaikan kegelisahan-kegelisahan mereka melalui deklamasi puisi. Bilamana kita sebagai generasi senior, bersama-sama menggaungkan betapa asyiknya berpuisi, entah melalui film, pementasan drama, musikalisasi, saya yakin, kaum muda Indonesia akan tergerak untuk belajar mencintai bahasanya sendiri. Saya berharap, semakin banyak pihak melakukan kegiatan-kegiatan serupa, dengan menyenangkan.”

Selain Yuditeha selaku sastrawan dan Annastasia selaku founder Lentera, lomba membaca puisi Deklamasi Lentera ini juga menggaet Hestia Istiviani, penggagas klub baca senyap pertama di Indonesia lewat Silent Book Club Jakarta atau Baca Bareng, sebagai juri. Hestia Istiviani sangat aktif di dunia literasi sebagai Bookfluencer yang kerap kali menularkan kegemaran membaca di kalangan anak muda. 

Tentang Deklamasi Lentera

Lomba Membaca Puisi Deklamasi Lentera diadakan dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional yang jatuh pada tanggal 28 April lalu. Lomba yang diadakan di berbagai media sosial milik Lentera.App., ini dilangsungkan sejak tanggal 28 April hingga 28 Mei 2023, dan terbuka untuk umum. 

Cara mengikuti lomba ini sangatlah mudah. Kamu hanya cukup mengunduh aplikasi Lentera di PlayStore dari gawai Android, cari puisi yang kamu suka di kategori Puisi atau Poetry, kemudian buat rekaman video pembacaan puisi tersebut sekreatif mungkin, dan unggah di media sosial masing-masing dengan menandai akun media sosial Lentera.App (Instagram, Facebook, TikTok, LinkedIn, Youtube dan Twitter, pilih salah satu), dan berikan tagar  #DeklamasiLentera dan #LenteraApp. Sepuluh video terbaik akan dipilih oleh juri, untuk kemudian dipilih bersama oleh masyarakat luas melalui sistem voting dengan memberikan “likes” sebanyak-banyaknya. Pemenang diumumkan pada 13 Juni 2023 dan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 1 juta rupiah untuk juara pertama, 750 ribu rupiah untuk juara kedua, dan 500 ribu rupiah untuk juara ketiga. Informasi lebih lanjut tentang lomba dapat dilihat di media sosial Lentera.

Tentang Lentera

Lentera adalah sebuah aplikasi perpustakaan digital swasta pertama di Indonesia yang hadir di tengah masyarakat pada Desember 2022. Berbeda dengan perpustakaan digital lainnya, Lentera memberikan royalti per halaman yang dibaca, kepada penulis dan penerbit yang tergabung di dalam Lentera, dengan harapan, para penulis dan penerbit akan semakin termotivasi untuk menerbitkan karya-karya bermutu yang berguna bagi masyarakat luas. Di lain sisi, masyarakat luas dapat menikmati koleksi buku-buku bermutu yang ada di Lentera secara gratis, sebagai upaya peningkatan minat baca masyarakat Indonesia.

Lentera sudah dapat diunduh dan dinikmati secara gratis bagi pengguna gawai pintar berbasis Android. Lentera berbasis iOS akan segera hadir, sehingga semakin banyak masyarakat Indonesia yang dapat menikmati pengalaman membaca buku secara gratis dan praktis. “Relax, and enjoy the book….”

***


Marsella May 30, 2023
Share this post
Tags
Archive
Mengembalikan Animo Sastra yang Surut